Reses Louis Schramm: Dorong Keadilan Pendidikan, PPDB Negeri-Swasta Jangan Timpang

Blog8 Dilihat

MANADO, PELOPORBERITA — Ketua Fraksi Gerindra DPRD Provinsi Sulawesi Utara, Louis Carl Schramm, SH., MH., turun langsung menyerap aspirasi masyarakat melalui kegiatan Reses Masa Persidangan di Panti Asuhan Dr. J. Lukas Manado.

Reses tersebut tidak sekadar menjadi agenda konstitusional wakil rakyat, tetapi menjadi ruang dialog untuk mengidentifikasi persoalan nyata yang dihadapi masyarakat, khususnya di sektor pendidikan.

Salah satu aspirasi yang mengemuka adalah ketimpangan dalam penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) antara SMA Negeri dan SMA Swasta. 

Masyarakat menilai diperlukan kebijakan yang lebih adil agar sekolah swasta tidak berada pada posisi yang terus terpinggirkan, mengingat kontribusinya dalam mencerdaskan generasi muda Sulawesi Utara.

Menanggapi hal itu, Louis Schramm menegaskan bahwa kebijakan pendidikan harus dibangun atas prinsip keadilan, kesetaraan, transparansi, dan keberpihakan terhadap kepentingan peserta didik.

“Saya akan memperjuangkan keadilan dan kesetaraan dalam kebijakan pendidikan. Sekolah negeri maupun swasta sama-sama memiliki peran penting dalam menyiapkan masa depan anak-anak Sulut,” tegasnya.»

Menurutnya, pemerintah tidak cukup hanya membuat regulasi, tetapi juga harus memastikan implementasinya tidak menciptakan kesenjangan baru. 

Karena itu, pengawasan terhadap kebijakan PPDB dinilai penting agar seluruh lembaga pendidikan memperoleh ruang yang proporsional dalam menjalankan fungsi pendidikan.

Selain persoalan PPDB, masyarakat juga menyampaikan harapan agar bantuan keyboard yang sebelumnya dijanjikan dapat segera direalisasikan kepada lembaga pendidikan dan komunitas yang membutuhkan. 

Bantuan tersebut diharapkan mampu menunjang pengembangan seni, kreativitas, bakat, serta proses pembelajaran generasi muda.

Berbagai aspirasi lain terkait peningkatan kualitas pendidikan, kesejahteraan masyarakat, hingga dukungan terhadap kegiatan sosial turut dicatat dalam agenda reses tersebut.

Louis Schramm memastikan aspirasi masyarakat tidak berhenti sebagai catatan seremonial.

“Menyerap aspirasi bukan sekadar mendengar. Suara rakyat harus dibawa ke ruang sidang DPRD untuk diperjuangkan menjadi kebijakan dan solusi nyata,” ujarnya.»

Kehadiran unsur masyarakat, tokoh pendidikan, dan pengurus panti asuhan dalam dialog tersebut memperkuat pesan bahwa reses merupakan instrumen penting untuk mempertemukan kebijakan di ruang parlemen dengan realitas kehidupan masyarakat.

Bagi Louis Schramm, politik representasi harus berujung pada kerja nyata. Sebab, ukuran keberhasilan seorang wakil rakyat bukan hanya seberapa sering hadir di tengah masyarakat, tetapi seberapa jauh aspirasi yang diserap mampu dikawal hingga menghasilkan perubahan yang dirasakan langsung oleh rakyat. Red

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *