Opini politik
Sulut, PELOPORBERITA — Pernyataan Gubernur YSK yang menyampaikan terima kasih kepada PDI Perjuangan atas dukungan selama dirinya memimpin, dalam momentum menerima kunjungan Olly Dondokambey selaku Bendahara Umum DPP PDI Perjuangan sekaligus Ketua DPD PDI Perjuangan Sulawesi Utara, dan juga mantan Gubernur bukan sekedar basa-basi protokoler. Senin (11/5/26)
Di panggung politik Sulawesi Utara, setiap gestur memiliki makna, setiap kalimat memiliki pesan, dan setiap pertemuan elite selalu menyimpan tafsir politik yang layak dibaca secara kritis.
Pertanyaannya sederhana, apa makna politik di balik pengakuan terbuka itu?
Selama ini publik melihat konfigurasi politik Sulut dibangun di atas kompetisi, diferensiasi kekuatan, dan narasi perubahan.
Namun ketika seorang gubernur secara eksplisit memberi apresiasi kepada kekuatan politik yang secara historis merupakan poros dominan pemerintahan sebelumnya, maka publik wajar bertanya.
Apakah sedang terjadi reposisi kekuatan politik di Sulut?
Jika benar PDI Perjuangan tetap menjadi kekuatan yang memberi support terhadap pemerintahan YSK, maka ini menunjukkan satu fakta penting, di Sulawesi Utara, garis oposisi dan koalisi tidak lagi dibaca secara hitam-putih.
Politik daerah sedang bergerak menuju fase yang lebih cair, lebih pragmatis, dan lebih strategis.
Ada beberapa kemungkinan pembacaan. Pertama, ini bisa dibaca sebagai sinyal kedewasaan politik.
Bahwa kompetisi elektoral telah selesai dan elite memilih merawat stabilitas pemerintahan demi pembangunan daerah.
Namun pembacaan kedua jauh lebih menarik, pernyataan itu bisa menjadi sinyal adanya konsolidasi kekuatan besar menjelang konfigurasi politik berikutnya, baik dalam konteks Pilkada, restrukturisasi birokrasi strategis, maupun perebutan pengaruh dalam penentuan arah pembangunan Sulut ke depan.
Di sinilah publik harus kritis, jika support politik itu benar hadir, publik berhak tahu, support dalam bentuk apa?
Apakah sebatas dukungan moral demi stabilitas daerah?
Ataukah ada bentuk konsensus politik yang lebih dalam antara kekuatan pemerintahan saat ini dengan poros politik warisan kepemimpinan sebelumnya?
Kehadiran Olly Dondokambey dalam kapasitas strategisnya tentu tidak bisa dibaca sekedar sebagai kunjungan silaturahmi biasa.
Dalam tradisi politik Indonesia, terutama di daerah dengan kontestasi elite yang kuat seperti Sulut, pertemuan semacam ini hampir selalu membawa pesan.
Yang menarik, ini juga menunjukkan bahwa magnet politik Olly Dondokambey di Sulawesi Utara tampaknya belum surut.
Meski tak lagi menjabat gubernur, posisi dan pengaruhnya tetap menjadi variabel penting dalam membaca peta kekuasaan daerah.
Lalu bagaimana dengan narasi perubahan yang selama ini menjadi ekspektasi sebagian masyarakat?
Di sinilah ujian terbesar pemerintahan YSK, publik tentu mendukung stabilitas politik.
Tetapi stabilitas tidak boleh dibangun di atas kompromi yang mengaburkan akuntabilitas.
Kolaborasi politik sah, konsolidasi elite juga bagian dari demokrasi.
Namun rakyat Sulut berhak mendapatkan transparansi arah.
Karena pada akhirnya, yang sedang dipertaruhkan bukan sekedar harmoni antar elite, melainkan masa depan tata kelola pemerintahan Sulawesi Utara.
Pernyataan YSK itu mungkin singkat, tetapi dalam politik, kadang satu kalimat cukup untuk membuka seribu pertanyaan.
Publik patut bertanya, ini sekedar etika politik, atau sinyal lahirnya poros kekuasaan baru? IOP








