Tak Lagi Bergantung Pasang Surut, Nelayan Bahu Rasakan Dampak Nyata Pengerukan Muara

Blog69 Dilihat

Manado, PELOPORBERITA.ID — Intervensi sederhana namun tepat sasaran kembali menunjukkan dampak besar bagi masyarakat pesisir.

Pengerukan pasir di muara Pantai Bahu, Kecamatan Malalayang, yang dilakukan oleh Balai Wilayah Sungai (BWS) Sulawesi I, kini dirasakan langsung manfaatnya oleh para nelayan setempat.

Selama bertahun-tahun, muara Bahu menjadi titik krusial yang kerap menghambat aktivitas melaut.

Sedimentasi yang menyebabkan pendangkalan membuat perahu sulit keluar-masuk, terutama saat air laut surut.

Kondisi ini bukan hanya memperlambat ritme kerja nelayan, tetapi juga meningkatkan risiko kerusakan perahu serta menekan produktivitas tangkapan.

Kini, situasi tersebut berbalik, pengerukan yang dilakukan telah membuka kembali akses perairan, memungkinkan perahu melintas dengan lebih aman dan lancar tanpa harus bergantung pada pasang surut air laut.

Dampaknya, nelayan dapat mengatur waktu melaut secara lebih fleksibel dan efisien.

Salah satu nelayan di Kelurahan Bahu mengungkapkan rasa syukur atas perubahan yang dirasakan.

“Kita sebagai nelayan di sini merasa sangat terbantu.

Dulu torang harus tunggu air pasang baru bisa kaluar-maso.

Sekarang so nyanda, so lebih gampang, ini bukti pemerintah ada perhatian pa torang,” ujarnya.

Ia menambahkan bahwa sebelum adanya pengerukan, ketidakpastian kondisi air kerap menjadi kendala utama dalam aktivitas harian mereka.

“Dulu torang sering ragu mo dorong perahu karena takut kandas.

Sekarang so nda tako-tako lagi, ini sangat membantu torang pe kerja,” tambahnya.

Apresiasi juga datang dari Ketua Jurnalis Aktivis Rakyat Indonesia (JARI), Maikel Pusung.

Ia menilai langkah yang dilakukan BWS Sulawesi I merupakan contoh nyata kebijakan yang menyentuh langsung kebutuhan masyarakat.

“Pekerjaan ini jelas menyentuh langsung kehidupan nelayan.

Dampaknya bukan sekedar teknis, tapi juga ekonomi.

Ketika akses melaut dipermudah, maka produktivitas dan pendapatan nelayan otomatis ikut terdongkrak,” kata Pusung.

Ia juga menekankan pentingnya keberlanjutan program serupa agar manfaat yang telah dirasakan tidak bersifat sementara.

“Pemerintah perlu memastikan adanya pemeliharaan berkala agar muara tidak kembali dangkal.

Selain itu, perlu sinergi lintas sektor untuk memperkuat ekosistem ekonomi pesisir, sehingga intervensi seperti ini menjadi bagian dari strategi jangka panjang,” lanjutnya.

Lebih jauh, pengerukan muara Bahu menunjukkan bahwa pembangunan infrastruktur tidak selalu harus berskala besar untuk memberikan dampak signifikan.

Normalisasi muara sebagai infrastruktur dasar justru terbukti memiliki efek domino, mulai dari efisiensi waktu operasional, peningkatan keselamatan, hingga penguatan kesejahteraan nelayan.

Kehadiran negara melalui respons cepat terhadap persoalan riil di lapangan juga menjadi faktor penting dalam membangun kepercayaan publik.

Ketika kebutuhan masyarakat dijawab secara konkret, legitimasi kebijakan tumbuh secara organik.

Ke depan, para nelayan berharap perhatian serupa dapat terus berlanjut, tidak hanya dalam bentuk pengerukan, tetapi juga melalui program pendukung lainnya yang berorientasi pada keberlanjutan ekonomi pesisir.

Kini, muara Bahu tak lagi menjadi hambatan, ia telah bertransformasi menjadi pintu harapan, membuka akses yang lebih pasti bagi nelayan untuk melaut, sekaligus menandai langkah kecil dengan dampak besar bagi kesejahteraan masyarakat pesisir. Red

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *