SULUT, PELOPORBERITA – Gagal menembus Liga Nusantara musim 2026 bukan berarti akhir perjalanan Persma 1960.
Klub kebanggaan masyarakat Sulawesi Utara ini masih menyimpan harapan besar untuk kembali bangkit.
Namun, kebangkitan tidak akan datang hanya dengan slogan atau seremoni.
Persma membutuhkan perubahan yang nyata dari akar persoalan.
Di tengah besarnya kecintaan masyarakat pda klub berjuluk kebanggaan “Kota Tinutuan” itu, muncul kritik tajam arah pengelolaan tim yang dinilai belum sepenuhnya profesional.
Sejumlah pencinta sepak bola menilai ada tiga langkah mendesak yang harus dilakukan apabila Persma 1960 ingin kembali menjadi kekuatan sepak bola nasional.
Pertama, melakukan perombakan total manajemen yang dinilai masih sarat kepentingan politik dibanding kepentingan prestasi klub.
Kedua, merekrut figur-figur yang benar-benar memiliki pengalaman dan rekam jejak di dunia sepak bola profesional, baik sebagai pemain, pelatih, maupun pengelola klub, bukan berdasarkan kedekatan atau kepentingan tertentu.
Ketiga, menghilangkan intervensi politik dalam pengelolaan klub dan memberikan ruang kepada insan sepak bola yang memahami pembinaan, kompetisi, serta pengembangan pemain muda.
“Sepak bola bukan panggung politik, sepak bola adalah tentang prestasi, disiplin, kerja keras, profesionalisme, dan kebanggaan masyarakat.
Ketika politik lebih dominan daripada kualitas, maka klub akan sulit berkembang,” demikian aspirasi yang berkembang di kalangan pendukung Persma.
Masyarakat berharap Persma 1960 memiliki mental baja untuk bangkit dari keterpurukan.
Dukungan suporter selama ini menunjukkan bahwa kecintaan terhadap klub tidak pernah padam, tetapi loyalitas itu harus dijawab dengan pembenahan yang serius.
Jika Persma ingin suatu saat kembali bersaing hingga menembus Liga 1 Indonesia, perubahan harus dimulai dari sekarang.
Profesionalisme harus menjadi fondasi utama, sementara kepentingan politik harus ditinggalkan dari ruang ganti dan ruang manajemen. IOP






