SULUT, PELOPORBERITA – Pengamat politik Jeffrey Sorongan menilai dinamika bergabungnya sejumlah tokoh ke Partai Solidaritas Indonesia (PSI) Sulawesi Utara merupakan bagian yang wajar dalam sistem demokrasi.
Namun, ia mengingatkan bahwa kekuatan politik saat ini tidak lagi semata-mata ditentukan oleh banyaknya figur yang direkrut.
Menurut Sorongan, kultur politik Sulawesi Utara sedang berada dalam fase transisi.
Jika pada masa lalu pilihan politik masyarakat lebih banyak dipengaruhi oleh figur, kedekatan sosial, dan jaringan politik, kini publik mulai memberikan perhatian lebih besar terhadap gagasan, rekam jejak, dan hasil kerja.
“Figur tetap memiliki pengaruh dalam politik Sulawesi Utara karena masyarakat kita memiliki kultur yang menghargai kepemimpinan dan kedekatan sosial.
Tetapi sekarang itu saja tidak cukup, masyarakat mulai bertanya apa programnya, apa gagasannya, dan apa manfaatnya bagi kehidupan mereka,” ujar Sorongan.
Ia mengatakan, meningkatnya akses informasi serta tingginya partisipasi generasi muda dalam ruang digital telah mengubah cara masyarakat memandang politik.
Pemilih kini lebih mudah membandingkan janji politik dengan realisasi program, sehingga ruang bagi politik yang hanya mengandalkan popularitas semakin menyempit.
“Politik modern bukan lagi sekedar kompetisi mengumpulkan tokoh, yang lebih penting adalah kemampuan menghadirkan solusi atas persoalan masyarakat, mulai dari lapangan kerja, pertumbuhan ekonomi, kesejahteraan petani dan nelayan, stabilitas harga kebutuhan pokok, hingga kualitas pelayanan publik,” katanya.
Sorongan menilai perpindahan elit politik menjelang agenda politik merupakan fenomena yang lazim.
Namun, perpindahan tersebut tidak otomatis diikuti oleh perpindahan dukungan masyarakat.
“Elit bisa berpindah partai, tetapi kepercayaan rakyat tidak bisa dipindahkan begitu saja.
Kepercayaan dibangun melalui integritas, konsistensi, keberanian mengambil keputusan, dan rekam jejak dalam memperjuangkan kepentingan publik,” tegasnya.
Ia juga mengingatkan bahwa seluruh partai politik, termasuk PSI, memiliki tantangan yang sama, yaitu membangun kepercayaan masyarakat melalui politik yang berorientasi pada solusi, bukan sekedar memperkuat barisan elit.
Menurutnya, masyarakat Sulawesi Utara kini semakin menginginkan arah pembangunan yang jelas, kebijakan yang berpihak kepada rakyat, pemerintahan yang bersih, serta pemimpin yang mampu menghadirkan hasil nyata.
“Era ketika pencitraan menjadi faktor utama perlahan mulai berubah, masyarakat semakin kritis dalam menilai siapa yang benar-benar bekerja dan siapa yang hanya mengandalkan momentum politik.
Pada akhirnya, demokrasi akan memberikan ruang kepada mereka yang mampu menjaga kepercayaan publik melalui kinerja dan gagasan,” pungkas Jeffrey Sorongan. IOP







