Sulut, PELOPORBERITA.ID — Tepat pada 5 Maret 2025, lembar baru kepemimpinan di Bumi Nyiur Melambai resmi dimulai.
Hari itu, Yulius Selvanus bersama Wakil Gubernur Victor Mailangkay mengawali perjalanan pengabdian mereka memimpin Provinsi Sulawesi Utara.
Bukan sekedar pergantian kekuasaan, tetapi sebuah amanah besar untuk menata arah masa depan daerah.
Satu tahun kemudian, perjalanan itu dapat dibaca bukan hanya melalui angka dan program, tetapi juga melalui ritme kepemimpinan yang mulai menemukan nadanya.
“Satu tahun bukanlah garis akhir,” demikian refleksi yang kerap disampaikan dalam berbagai kesempatan.
Tahun pertama adalah garis start, momen menentukan untuk memastikan arah sudah benar, fondasi telah diletakkan, dan mesin pembangunan mulai bergerak dengan stabil.
Di bawah kepemimpinan Yulius Selvanus, pemerintahan daerah mencoba memadukan dua karakter kepemimpinan disiplin militer yang tegas dan ketelitian hukum yang terukur.
Perpaduan itu membentuk satu prinsip sederhana namun kuat, rakyat adalah prioritas utama.
Dalam kurun satu tahun, indikator ekonomi menunjukkan sinyal yang cukup optimistis.
Pada Triwulan IV tahun 2025, Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Sulawesi Utara atas dasar harga berlaku mencapai sekitar Rp204,75 triliun, sementara atas dasar harga konstan 2010 mencapai Rp113,66 triliun.
Pertumbuhan ekonomi tercatat 5,66 persen dibanding tahun sebelumnya.
Angka ini bukan sekadar statistik ekonomi, tetapi cerminan bahwa fondasi pembangunan mulai bekerja.
Sektor industri pengolahan tumbuh signifikan hingga 9,97 persen, sementara ekspor luar negeri melonjak 28,42 persen.
Artinya, Sulawesi Utara tidak sekadar bertahan dalam dinamika ekonomi global, tetapi mulai memperluas pengaruhnya ke pasar internasional.
Pertumbuhan tahunan yang menyentuh 5,95 persen dan pertumbuhan triwulan sebesar 7,02 persen memperlihatkan satu pesan penting arah pembangunan ekonomi sedang bergerak menuju stabilitas jangka panjang.
Di tangan Yulius Selvanus, sektor pariwisata tidak lagi diposisikan sebagai kegiatan seremonial musiman.
Pariwisata dipandang sebagai industri strategis jangka panjang.
Revitalisasi kawasan religi dan budaya seperti Bukit Kasih Kanonang, pembenahan museum daerah, hingga pemulihan ekosistem Danau Tondano dilakukan sebagai bagian dari penguatan identitas daerah.
Sementara itu, Festival Pulau Bunaken terus diperkuat sebagai etalase pariwisata dunia.
Langkah paling strategis adalah pembukaan jalur penerbangan internasional langsung Seoul–Incheon–Manado, yang diikuti oleh rencana penerbangan Manado–Taipei pada Februari 2026.
Kebijakan ini membuka gerbang baru bagi arus wisatawan, investasi, serta interaksi ekonomi global.
Bagi pemerintah daerah, pariwisata bukan sekadar soal kunjungan wisatawan, tetapi tentang lapangan kerja, pergerakan UMKM, dan ekosistem ekonomi baru.
Namun pembangunan tidak akan bertahan tanpa sumber daya manusia yang unggul.
Pemerintah provinsi mengambil langkah strategis dengan membangun SMA Taruna di Langowan, merevitalisasi sekitar 50 sekolah, serta memperluas program beasiswa bagi pelajar dan mahasiswa.
Ratusan alumni SMK dan mahasiswa juga diberangkatkan mengikuti program magang ke Jepang—sebuah upaya membuka pengalaman global bagi generasi muda Sulawesi Utara.
Di sektor pendidikan tinggi, Universitas Negeri Manado disetujui membuka Fakultas Kedokteran, menyusul pengembangan fakultas pertambangan.
Langkah ini memperlihatkan arah besar pembangunan daerah, kekuatan masa depan tidak hanya bertumpu pada sumber daya alam, tetapi pada kapasitas intelektual manusia.
Ketahanan Pangan dan Keadilan Pembangunan
Pemerintahan Yulius–Mailangkay juga menempatkan ketahanan pangan sebagai prioritas utama.
Gerakan Pangan Murah diperluas di berbagai wilayah, sementara program “tanam apa yang dimakan, makan apa yang ditanam” digerakkan hingga ke pelosok desa.
Sekitar 2.000 hektare lahan padi dipersiapkan untuk memperkuat produksi pangan daerah.
Di sisi lain, pembangunan juga menyentuh wilayah kepulauan.
Listrik 24 jam kini hadir di beberapa pulau seperti Pulau Gangga, Talise, Buhias, Mantehage, dan Nain.
Pesannya sederhana namun tegas, tiddak boleh ada pulau yang tertinggal, tidak boleh ada wilayah yang merasa dilupakan.
Pembangunan manusia juga terlihat dari penguatan layanan kesehatan.
Ambulans disalurkan hingga ke daerah terpencil, kapal klinik menjangkau wilayah kepulauan seperti Sangihe dan Talaud.
Sulawesi Utara juga menerima UHC Award, sebuah pengakuan atas komitmen terhadap layanan kesehatan universal.
Di RSUP Kandou, pembangunan gedung pelayanan kanker terpadu mulai dikerjakan, sementara rumah sakit daerah di beberapa wilayah terus direvitalisasi.
Sementara itu, sektor olahraga juga mendapat perhatian.
Kolam renang Ranowangko direhabilitasi, arena pacuan kuda Minahasa direvitalisasi, dan berbagai kejuaraan olahraga digelar.
Bagi gubernur, olahraga bukan hanya kompetisi.
Olahraga adalah investasi karakter dan karakter adalah fondasi kemajuan daerah.
Satu hal yang menonjol dalam gaya kepemimpinan ini adalah kehadiran langsung di lapangan.
Ketika banjir besar melanda Manado, gubernur turun langsung membantu warga bahkan hingga larut malam.
Ketika bencana menghantam wilayah kepulauan, ia tetap terbang meninjau lokasi meski baru pulih dari sakit.
Sebanyak 280 rumah hunian tetap diserahkan bagi warga terdampak bencana.
Pesan yang ingin disampaikan sederhana,
kepemimpinan bukan hanya keputusan di balik meja kerja, tetapi keberanian untuk hadir di tengah masyarakat yang membutuhkan.
Sulawesi Utara dikenal sebagai salah satu wilayah dengan tingkat toleransi tinggi di Indonesia.
Komitmen menjaga harmoni itu terlihat dari berbagai kunjungan ke acara keagamaan lintas umat mulai dari open house Idul Fitri, perayaan Imlek umat Konghucu, hingga kegiatan keagamaan Kristen, Katolik, Buddha, dan lainnya.
Semangat Mapalus gotong royong khas masyarakat Minahasa terus dihidupkan sebagai energi sosial pembangunan.
Karena bagi kepemimpinan ini, pembangunan tanpa persatuan hanya akan menghasilkan kemajuan yang rapuh.
Fondasi pembangunan terus diperkuat, termasuk melalui pengesahan substansi Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) setelah penantian panjang selama tujuh tahun.
Dengan kepastian tata ruang tersebut, Sulawesi Utara memiliki pijakan hukum yang kuat untuk melompat lebih jauh.
Arah besar pembangunan kini semakin jelas.
Sulawesi Utara diproyeksikan menjadi pusat pertumbuhan ekonomi kawasan timur Indonesia sekaligus gerbang perdagangan Pasifik.
Satu tahun memang belum cukup untuk menyelesaikan seluruh persoalan.
Namun satu tahun cukup untuk memastikan bahwa arah perjalanan sudah benar. Fondasi telah diletakkan. Mesin pembangunan mulai bergerak. Kepercayaan publik mulai tumbuh.
Perjalanan masih panjang, tetapi langkah pertama telah diambil dengan keyakinan.
Dan di Bumi Nyiur Melambai, pesan itu terus bergema:
•Satu Tahun.
•Satu Ritme.
•Satu Komando Petarung.
Sebuah awal dari perjalanan panjang menuju Sulawesi Utara yang maju, sejahtera, dan berkelanjutan, bukan hanya kuat dalam angka, tetapi juga kokoh dalam karakter. IOP







