Efek Gajah Mulai Terasa, Lima Sosok Ini Bisa Jadi Mimpi Buruk Partai Besar di Sulut

Blog424 Dilihat

SULUT, PELOPORBERITA – Mesin politik menuju Pemilu 2029 mulai dipanaskan, di tengah dominasi partai-partai mapan di Sulawesi Utara, muncul satu kekuatan baru yang dinilai berpotensi mengubah konstelasi politik di Bumi Nyiur Melambai ini.

Partai Solidaritas Indonesia (PSI) perlahan membangun poros baru dengan merekrut sejumlah figur yang memiliki rekam jejak, jaringan politik, dan basis elektoral di berbagai wilayah.

Langkah ini dipandang sebagai strategi memperluas ceruk pemilih sekaligus menantang dominasi partai-partai besar.

Setidaknya ada lima nama yang digadang-gadang menjadi “fighter” utama PSI Sulut menuju 2029.

Di Minahasa Tenggara, mantan Bupati James Sumendap dinilai masih memiliki magnet politik yang kuat.

Basis loyalis yang telah terbentuk selama dua periode kepemimpinannya diperkirakan tetap menjadi modal penting dalam pertarungan politik mendatang.

Di Bolaang Mongondow Raya (BMR), Tatong Bara menjadi figur sentral.

Mantan Wali Kota Kotamobagu itu dikenal memiliki pengaruh luas di kawasan BMR dan dinilai mampu menjadi lokomotif elektoral PSI di wilayah tersebut.

Sementara di Tomohon, Sherly Sompotan masih menjadi salah satu tokoh perempuan yang memiliki akar politik kuat.

Pengalamannya di pemerintahan dan kedekatan dengan masyarakat menjadi modal yang dinilai masih relevan dalam kontestasi mendatang.

Nama Melky Pangemanan juga masuk dalam radar. Mantan anggota DPRD Sulawesi Utara itu dinilai memiliki jaringan politik yang solid di Minahasa Utara dan Kota Bitung.

Perannya dalam konsolidasi organisasi PSI disebut semakin memperkuat daya saing partai.

Melengkapi komposisi tersebut adalah politisi senior James Karinda.

Berbekal pengalaman sebagai anggota DPRD dan mantan Direktur Utama PT Air Manado, James Karinda dinilai tetap memiliki pengaruh di Kota Manado, salah satu daerah pemilihan paling strategis di Sulawesi Utara.

Pengamat politik Jeffrey Sorongan menilai, kombinasi lima figur dengan basis yang tersebar di sejumlah daerah berpotensi menciptakan efek kejut pada peta politik Sulut.

Jika konsolidasi berjalan efektif, PSI tidak hanya menjadi peserta pemilu, tetapi dapat tampil sebagai penantang serius dalam perebutan suara.

Situasi ini membuat partai-partai mapan diperkirakan tidak bisa lagi hanya mengandalkan basis tradisional.

Pertarungan 2029 diprediksi akan lebih ditentukan oleh kekuatan figur, efektivitas mesin partai, serta kemampuan membaca aspirasi pemilih, terutama generasi muda.

Menuju 2029, politik Sulawesi Utara tampaknya memasuki babak baru.

Pertanyaannya kini bukan lagi apakah PSI bisa menjadi pemain utama, melainkan sejauh mana partai berlambang gajah itu mampu mengonversi kekuatan figur menjadi kemenangan elektoral. IOP

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *