Pilkada 2029 Masih Jauh, Tapi Papan Catur Sulut Sudah Bergerak! Muncul Sinyal 2G?

Blog526 Dilihat

SULUT, PELOPORBERITA.ID — Pilkada 2029 masih jauh. Tapi permainan politiknya mungkin sudah dimulai.

Di balik panggung politik “Bumi Nyiur Melambai”, sejumlah gerakan mulai terlihat.

Ada yang semakin aktif melalui aktivitas sosial dan bantuan ke rumah-rumah ibadah. Ada yang memperjuangkan nasib petani di tengah tekanan musim panas. Ada yang mulai memperkuat konsolidasi politik. Bahkan, ada yang memilih hengkang dari partainya.

Kebetulan? Bisa jadi. Tetapi dalam politik, setiap langkah selalu menarik untuk dicermati.

Pengamat politik Jeffrey Sorongan bahkan sudah menarik benang merahnya menuju Pilkada Sulut 2029.

Sorongan melihat kemungkinan munculnya sebuah konfigurasi yang menarik, Gerindra-Golkar atau “2G”.

“Petahana Gerindra, YSK yang juga Ketua DPD, membutuhkan figur kuat dari Golkar seperti CEP atau MEP untuk Pilkada 2029 jika ingin mempertahankan jabatan untuk periode kedua,” ujar Opa Jeff sapaan akrabnya di salah satu usaha UMKM milik Gen-Z yang ada di tempat keramaian ibu kota Sulut.

Nama CEP dan MEP sudah masuk dalam radar pembacaan politik tersebut.

Menariknya, Gerindra dan Golkar bukan dua kekuatan politik yang baru berada dalam satu panggung.

Keduanya berada dalam Koalisi Indonesia Maju (KIM) yang mengusung Prabowo Subianto-Gibran Rakabuming Raka pada Pilpres 2024. 

KPU mencatat Gerindra dan Golkar termasuk partai yang mengusulkan pasangan Prabowo-Gibran.

Karena itu, ketika dinamika politik Sulut mulai dibaca menuju 2029, pengalaman berada dalam satu gerbong politik nasional tersebut menjadi salah satu konteks yang menarik untuk dicermati.

Di sisi lain, komunikasi antara Gubernur Sulut Yulius Selvanus Komaling dengan Ketua Umum Golkar sekaligus Menteri ESDM Bahlil Lahadalia juga menjadi salah satu variabel yang menurut Jeffrey patut dicermati

Apakah ini hanya hubungan pemerintahan? Ataukah ada sinyal politik yang lebih besar di baliknya?

Belum ada deklarasi koalisi, belum ada pasangan calon, bahkan Pilkada 2029 masih berada di depan mata bahkan masih terbibilang prematur.

Sejauh ini, istilah ‘2G’ tersebut masih merupakan pembacaan politik dan belum merupakan nama atau konfigurasi koalisi resmi kedua partai.

Tetapi justru karena belum ada keputusan resmi, ruang manuver politik menjadi semakin terbuka.

Sebab politik tidak selalu dimulai dengan deklarasi, kadang ia dimulai dari komunikasi, dari konsolidasi, dari pertemuan, dari hubungan antarelit dan dari langkah-langkah kecil yang baru terlihat maknanya ketika semua potongan mulai tersusun.

Sorongan menyebutnya sebagai opini politik modern, membaca arah politik bukan hanya dari apa yang diucapkan di depan publik, tetapi juga dari dinamika kekuatan yang sedang dibangun.

Saat ini pertanyaannya bukan lagi apakah politik Sulut sedang bergerak, pertanyaannya yaitu ke mana arah geraknya?

Apakah kedekatan Gerindra dan Golkar akan berkembang menjadi slogan“2G” menuju Pilkada 2029?

Atau dinamika hari ini justru sedang membuka jalan bagi poros politik lain yang belum terlihat di permukaan?

Nama YSK, CEP dan MEP sudah mulai masuk dalam perbincangan politik. IOP

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *