BETA GIBRAN SULUT SOROTI KERUSAKAN PIPA BERULANG: PDAM JANGAN HANYA JADI “TIM PEMADAM KEBAKARAN”

Blog34 Dilihat

MANADO, PELOPORBERITA — Persoalan gangguan distribusi air bersih di Kota Manado dinilai tidak lagi cukup diselesaikan dengan pola “pipa pecah, kemudian diperbaiki”. Beta Gibran Sulut meminta PDAM Wanua Wenang melakukan pembenahan secara lebih komprehensif, terutama karena gangguan jaringan dan kebocoran pipa telah berulang di sejumlah wilayah selama bertahun-tahun.

Wakil Sekretaris Beta Gibran Sulut, Dior Audio, mengatakan kejadian yang berulang seharusnya menjadi bahan evaluasi manajemen untuk membangun sistem pencegahan, bukan hanya respons setelah kerusakan terjadi.

“Kalau satu titik pipa pecah sekali, tentu bisa dipahami sebagai gangguan teknis. Tetapi kalau pola kerusakannya berulang dan terjadi di kawasan atau jaringan yang sama, pertanyaannya adalah apa langkah pencegahannya? Jangan sampai PDAM hanya menjadi seperti tim pemadam kebakaran: pipa pecah, diperbaiki; pecah lagi, diperbaiki lagi. Harus ada penyelesaian sampai ke akar masalah,” ujar Dior.

Menurutnya, persoalan ini memiliki rekam jejak yang cukup panjang.

Pada November 2022, misalnya, PDAM pernah menyampaikan adanya sejumlah titik kebocoran pipa yang harus diperbaiki. Pada saat yang sama, Dirut PDAM juga menjelaskan bahwa sebagian jaringan distribusi telah berusia puluhan tahun dan mengalami korosi serta kebocoran.

Persoalan jaringan tua juga kembali disebut pihak PDAM pada 2024. Dalam pemberitaan RRI, PDAM mengakui sebagian jaringan pipa yang digunakan bahkan berasal dari jaringan yang dibangun sejak 1923 dan 1975, sementara sedimentasi, karat dan endapan disebut dapat menghambat aliran air.

“Artinya, masalah ini sebenarnya sudah diketahui. Kalau sumber masalahnya sudah diketahui, maka pertanyaannya adalah apa road map penggantiannya? Mana prioritas jaringan yang paling rawan? Berapa kilometer pipa yang harus diremajakan setiap tahun? Berapa anggarannya? Dan kapan targetnya selesai?” kata Dior.

Ia juga menyoroti data pengaduan pelanggan yang menunjukkan besarnya beban persoalan pelayanan.

Sebuah penelitian mengenai pengendalian kualitas layanan pelanggan PDAM Wanua Wenang mencatat 1.989 Job Order pengaduan pelanggan pada Juli 2023 hingga Juni 2024, dengan 1.882 di antaranya terealisasi. Artinya terdapat selisih 107 Job Order yang belum terealisasi dalam data tersebut.

“Angka ini harus dibaca sebagai data manajemen. Bukan sekadar angka pengaduan. Dari hampir dua ribu Job Order, kita harus bisa melihat lokasi mana yang berulang, jenis kerusakan apa yang paling sering terjadi, berapa lama waktu penyelesaiannya dan berapa banyak pengaduan yang kembali muncul di lokasi yang sama,” tegasnya.

Menurut Dior, data pengaduan seharusnya menjadi sistem peringatan dini bagi PDAM.

Jika satu kawasan berkali-kali melaporkan tekanan air rendah, kebocoran, pipa pecah atau distribusi terhenti, maka kawasan tersebut harus masuk dalam daftar prioritas preventive maintenance dan capital expenditure.

“Jangan sampai masyarakat melapor berkali-kali, petugas datang memperbaiki, lalu beberapa bulan kemudian masyarakat menghadapi masalah yang sama. Itu berarti kita belum menyelesaikan masalah, kita hanya menyelesaikan gejalanya,” ujarnya.

Bukan Sekadar Perbaikan, Tetapi Preventive Maintenance

Dior meminta Direksi PDAM Wanua Wenang mulai menerapkan pendekatan yang lebih berbasis data.

Menurutnya, setidaknya harus ada peta jaringan kritis, database riwayat kerusakan setiap ruas pipa, klasifikasi usia dan material pipa, titik dengan frekuensi kebocoran tertinggi, serta rencana penggantian jaringan berdasarkan tingkat risiko.

“Kalau sebuah pipa sudah diketahui tua, sering bocor dan berada di jalur strategis yang melayani banyak pelanggan, jangan menunggu sampai pecah baru bertindak. Harus diganti sebelum menjadi masalah. Itulah preventive maintenance,” katanya.

Dior menilai pendekatan tersebut sangat penting karena gangguan pada jaringan utama tidak hanya berdampak kepada satu pelanggan, tetapi dapat memutus pelayanan kepada banyak warga sekaligus.

Ia juga mengingatkan bahwa pada Juli 2026 sendiri Dirut PDAM menyampaikan bahwa kerusakan jaringan terjadi berulang, bahkan setelah satu titik selesai diperbaiki muncul kerusakan di titik lainnya.

“Kalau pola ini terus terjadi, maka Pemerintah Kota dan DPRD harus meminta Direksi menunjukkan root cause analysis-nya. Apa sebenarnya penyebab dominan? Usia pipa? Tekanan? Material? Kondisi tanah? Beban kendaraan? Pekerjaan konstruksi? Atau faktor lainnya? Semua harus berbasis data,” tegas Dior.

Jangan Sampai Visi Wali Kota Tidak Didukung Jajaran Sendiri

Dior juga mengaitkan persoalan PDAM dengan agenda pembangunan Kota Manado di periode kedua kepemimpinan Wali Kota Andrei Angouw dan Wakil Wali Kota Richard Sualang.

Menurutnya, pemerintah kota telah menunjukkan keinginan untuk mempercepat pembenahan pelayanan dasar masyarakat, termasuk air bersih, persampahan dan transportasi umum.

“Wali Kota tidak mungkin bekerja sendirian. Visi besar pemerintah kota harus diterjemahkan oleh seluruh jajaran, termasuk Direksi BUMD. Karena itu kami mempertanyakan apakah ritme kerja dan kepemimpinan PDAM saat ini benar-benar sudah sejalan dengan agenda percepatan pelayanan yang diinginkan pemerintah kota,” katanya.

Dior menegaskan, kritik tersebut bukan ditujukan sebagai persoalan pribadi terhadap Dirut PDAM.

“Ini bukan soal suka atau tidak suka kepada seseorang. Ini soal kinerja dan kesesuaian visi. Kalau memang Direksi masih mampu memperbaiki keadaan, silakan buktikan dengan target dan hasil yang terukur. Tetapi kalau setelah dievaluasi ternyata kepemimpinan yang ada sudah tidak mampu mengikuti arah dan target pemerintah kota, maka sebaiknya ada sikap kenegarawanan,” ujarnya.

Ia menyebut, jika memang seorang Dirut merasa tidak lagi mampu menjalankan visi dan target pemilik perusahaan daerah, mengambil pilihan untuk mundur secara terhormat dapat menjadi bentuk tanggung jawab kepemimpinan.

“Tidak perlu menunggu sampai masyarakat semakin kecewa. Kalau merasa sudah tidak sejalan dengan visi pemerintah kota atau tidak mampu membawa perubahan yang dibutuhkan masyarakat, mundur secara terhormat adalah pilihan yang juga menunjukkan sikap bertanggung jawab. Tetapi kalau masih yakin mampu, mari buktikan dengan kinerja,” tegas Dior.

Beta Gibran Sulut, lanjut Dior, berharap persoalan PDAM tidak berhenti pada saling menyalahkan antara masyarakat, Direksi dan pemerintah.

“Yang kami minta sederhana: air mengalir, tekanannya memadai, gangguan semakin berkurang dan ketika terjadi masalah ada kepastian penyelesaian. Masyarakat tidak membutuhkan alasan yang berulang. Masyarakat membutuhkan pelayanan yang nyata,” pungkasnya. RED

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *