BETA GIBRAN SULUT: JIKA TAK SEJALAN DENGAN VISI PERCEPATAN PELAYANAN, DIRUT PDAM SEBAIKNYA DIEVALUASI

Blog598 Dilihat

MANADO, PELOPORBERITA — Sorotan masyarakat terhadap pelayanan air bersih PDAM Wanua Wenang Manado kembali mencuat. Bahkan, momentum peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan RI di media sosial PDAM justru dibanjiri keluhan pelanggan yang mempertanyakan ketersediaan air bersih. Kondisi ini menunjukkan bahwa persoalan pelayanan air bukan lagi isu yang bisa dianggap biasa.

Wakil Sekretaris Beta Gibran Sulut, Dior Audio, menilai kondisi tersebut harus menjadi bahan evaluasi serius bagi Pemerintah Kota Manado, khususnya terhadap kepemimpinan Direktur Utama PDAM Wanua Wenang, Meiky Taliwuna.

“Air bersih adalah kebutuhan dasar masyarakat. Kalau masyarakat masih harus berulang kali mengeluhkan distribusi air, maka kita patut bertanya, apakah manajemen PDAM sudah benar-benar berjalan searah dengan visi pemerintah kota untuk mempercepat dan memaksimalkan pelayanan kepada masyarakat?” ujar Dior.

Menurutnya, persoalan distribusi air bersih bukan masalah yang baru muncul. Sorotan terhadap pelayanan PDAM telah berulang sejak tahun-tahun awal kepemimpinan Meiky Taliwuna. Karena itu, evaluasi tidak cukup hanya dilakukan dalam bentuk rapat dan pemetaan masalah, tetapi harus diikuti dengan perubahan nyata yang dirasakan masyarakat.

“Jangan sampai pemerintah kota sudah bergerak cepat, tetapi jajaran badan usaha yang menjadi ujung tombak pelayanan justru bergerak lambat. Pemerintah kota punya visi yang jelas pada periode kedua ini: mempercepat pelayanan dasar, termasuk air bersih, sekaligus membenahi persoalan sampah dan transportasi umum. Semua perangkat harus menjadi mesin yang mendukung visi tersebut,” tegasnya.

Dior menilai langkah Wali Kota Manado Andrei Angouw bersama Wakil Wali Kota Richard Sualang yang turun langsung mengevaluasi pelayanan PDAM pada Juli lalu sebenarnya menunjukkan keseriusan pemerintah. Dalam evaluasi tersebut, pemerintah membahas kondisi pelayanan, jaringan distribusi, wilayah yang belum terlayani secara optimal, hingga target perluasan layanan menjadi 75 ribu sambungan rumah pada 2030.

“Kalau Wali Kota sudah turun langsung, camat dilibatkan, jaringan dipetakan, bahkan target 75 ribu sambungan sudah dicanangkan, maka pertanyaannya sederhana: seberapa cepat semua itu diwujudkan oleh manajemen PDAM? Jangan sampai target pemerintah bagus di atas kertas, tetapi masyarakat tetap harus mencari air karena distribusi tidak maksimal,” katanya.

Dior menegaskan, PDAM sebagai perusahaan daerah memiliki posisi strategis dalam pembangunan Kota Manado. Bahkan dokumen keuangan PDAM menyebut salah satu maksud dan tujuannya adalah memberikan manfaat bagi perkembangan perekonomian daerah serta membangun dan mengembangkan sarana-prasarana air bersih.

Karena itu, ia meminta Wali Kota dan jajaran Pemerintah Kota Manado melakukan evaluasi menyeluruh terhadap kinerja Direksi PDAM Wanua Wenang, bukan hanya mengevaluasi persoalan teknis distribusi.

“Kalau setelah dievaluasi ternyata kepemimpinan sekarang tidak mampu mengikuti ritme dan visi percepatan pelayanan yang diinginkan Wali Kota, maka jangan ragu melakukan penyegaran. Lebih baik diganti jika memang tidak sejalan, daripada masyarakat terus menjadi korban pelayanan yang tidak maksimal,” tegas Dior.

Ia menambahkan, pergantian atau penyegaran kepemimpinan bukanlah persoalan suka atau tidak suka terhadap seseorang. Ukurannya harus sederhana: kinerja, target pelayanan, kecepatan penyelesaian masalah dan kepuasan masyarakat.

“Pemimpin BUMD harus siap bekerja dengan target dan dievaluasi berdasarkan hasil. Masyarakat tidak membutuhkan terlalu banyak alasan. Mereka membutuhkan air yang mengalir ketika membuka keran,” pungkasnya. Red

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *