Sulut, PELOPORBERITA.ID — Sekretaris Jurnalis Aktivis Rakyat Indonesia (JARI), Jenry Mandey., S.AP., soroti kondisi sejumlah ruas jalan nasional di Sulawesi Utara yang dinilai tidak berumur panjang.
Ia menegaskan bahwa persoalan ini bukan semata-mata akibat kualitas pekerjaan konstruksi, melainkan dipengaruhi oleh faktor struktural yang selama ini kurang mendapat perhatian serius.
Menurutnya, masyarakat perlu memahami akar persoalan agar tidak terjadi kesalahpahaman dalam menilai kinerja pembangunan infrastruktur, khususnya oleh Balai Pelaksanaan Jalan Nasional.
“Kerusakan jalan yang cepat bukan selalu karena asal kerja.
Ada faktor besar yang sering diabaikan, terutama kelebihan muatan kendaraan atau Over Dimension Over Load (ODOL),” tegas JM.
JM menjelaskan bahwa praktik kendaraan dengan muatan berlebih menjadi penyebab utama kerusakan dini jalan nasional.
Truk logistik yang membawa beban jauh di atas kapasitas desain jalan menyebabkan tekanan berlebih pada struktur perkerasan.
Ia mencontohkan aktivitas angkutan industri seperti yang dilakukan oleh PT Conch Sulawesi Comment, yang kerap mengangkut material dalam jumlah besar.
Dampaknya, permukaan jalan cepat retak, bergelombang, bahkan mengalami deformasi permanen.
“Kalau beban kendaraan melampaui spesifikasi teknis jalan, maka umur rencana jalan yang seharusnya bisa bertahan bertahun-tahun akan terpangkas drastis,” jelasnya.
Selain faktor manusia, kondisi alam juga berperan. Curah hujan tinggi yang kerap melanda wilayah Sulawesi Utara, ditambah siklus panas dan hujan yang ekstrem, mempercepat kerusakan lapisan aspal.
Perubahan suhu menyebabkan material aspal memuai dan menyusut secara berulang, sehingga memicu retakan mikro yang lama-kelamaan berkembang menjadi kerusakan serius.
Faktor lain yang tak kalah penting adalah tingginya volume kendaraan berat di jalur nasional.
Jalan-jalan ini menjadi urat nadi distribusi logistik, kendaraan proyek, hingga transportasi antar kota.
“Semakin tinggi intensitas kendaraan berat yang melintas, semakin cepat pula tingkat keausan jalan. Ini hukum fisika yang tidak bisa dihindari,” tambah JM.
JM memberikan pandangannya bahwa solusi utama terletak pada penegakan aturan yang konsisten dan terintegrasi.
JARI mendorong sejumlah solusi yang dinilai realistis dan berdampak langsung:
- Optimalisasi jembatan timbang untuk memastikan kendaraan tidak melanggar batas muatan
- Penerapan tilang elektronik (ETLE) bagi pelanggar ODOL
- Sanksi tegas kepada perusahaan yang terbukti melanggar aturan
- Peningkatan kualitas konstruksi jalan, termasuk material yang tahan terhadap iklim ekstrem
- Perbaikan sistem drainase guna mencegah genangan air yang mempercepat kerusakan
JM menegaskan bahwa menjaga ketahanan jalan nasional bukan hanya tanggung jawab pemerintah, tetapi juga seluruh pengguna jalan, terutama pelaku industri dan transportasi.
“Kalau kita ingin jalan awet dan berumur panjang, maka disiplin terhadap aturan adalah kunci.
Tanpa itu, pembangunan akan terus seperti tambal sulam yang tidak pernah selesai.
Ini bukan sekedar soal jalan rusak, tapi soal bagaimana kita menjaga aset negara agar benar-benar bermanfaat dalam jangka panjang,” tutupnya. IOP












