Sulut, PELOPORBERITA.ID — Tepat pada 5 Maret 2026, genap satu tahun perjalanan kepemimpinan Gubernur Sulawesi Utara, Yulius Selvanus, SE., bersama Wakil Gubernur Dr. J. Victor Mailangkay., SH., MH
Momentum ini bukan sekedar penanda waktu dalam kalender pemerintahan, melainkan refleksi atas fase awal pembangunan yang berorientasi pada penataan fondasi jangka panjang bagi kemajuan daerah Bumi Nyiur Melambai.
Dalam berbagai kesempatan, Gubernur Yulius Selvanus menegaskan bahwa capaian-capaian selama satu tahun pertama bukanlah hasil kerja individu, melainkan buah dari kerja kolektif seluruh elemen masyarakat Sulawesi Utara.
Pemerintah provinsi, menurutnya, hanya menjadi penggerak yang menyatukan ritme pembangunan agar berjalan dalam satu komando dan satu arah strategis.
“Pemerintahan ini tidak berjalan tanpa arah. Setiap langkah yang diambil diarahkan untuk masa depan Sulawesi Utara, bukan hanya hari ini, tetapi lima hingga dua puluh tahun ke depan,” demikian pesan yang kerap disampaikan Gubernur tersebut.
• Fondasi Ekonomi yang Mulai Menguat
Dalam perspektif ekonomi makro, tahun pertama kepemimpinan Yulius Selvanus–Victor Mailangkay menunjukkan indikator yang relatif stabil.
Pada triwulan IV tahun 2025, Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Sulawesi Utara atas dasar harga berlaku tercatat mencapai Rp204,75 triliun, sementara atas dasar harga konstan 2010 mencapai Rp113,66 triliun.
Secara kumulatif, ekonomi Sulawesi Utara tumbuh 5,66 persen dibandingkan tahun sebelumnya.
Sektor industri pengolahan bahkan mengalami pertumbuhan signifikan sebesar 9,97 persen, sementara ekspor luar negeri melonjak hingga 28,42 persen.
Angka-angka ini memberi sinyal bahwa Sulawesi Utara tidak sekedar bertahan dalam dinamika ekonomi nasional dan global, tetapi mulai memperluas pengaruh ekonominya ke pasar internasional.
Dengan pertumbuhan tahunan sekitar 5,95 persen dan pertumbuhan triwulan mencapai 7,02 persen, arah kebijakan ekonomi daerah dinilai semakin terukur.
Indeks Pembangunan Manusia (IPM) juga terus menunjukkan tren peningkatan.
Bagi pemerintah daerah, indikator ini bukan sekedar statistik, melainkan cerminan bahwa pembangunan ekonomi sedang diarahkan untuk memperkuat kualitas hidup masyarakat.
• Pariwisata sebagai Mesin Pertumbuhan Baru
Di bawah kepemimpinan Yulius Selvanus, sektor pariwisata diposisikan sebagai mesin pertumbuhan ekonomi baru.
Sejumlah langkah strategis dilakukan, mulai dari revitalisasi kawasan religi Bukit Kasih Kanonang, pembenahan Museum Negeri Provinsi Sulawesi Utara, hingga perbaikan kawasan wisata sejarah Sumaru Endo.
Program pemulihan lingkungan juga dijalankan melalui pembersihan Danau Tondano, yang tidak hanya penting bagi ekologi tetapi juga bagi pengembangan pariwisata dan perikanan.
Sementara itu, Festival Pulau Bunaken diperkuat sebagai etalase internasional untuk memperkenalkan keindahan laut Sulawesi Utara kepada dunia.
Langkah paling strategis adalah pembukaan jalur penerbangan internasional langsung Seoul–Incheon–Manado, yang membuka konektivitas baru antara Sulawesi Utara dan Korea Selatan.
Kebijakan ini disusul dengan rencana penerbangan Manado–Taipei pada Februari 2026.
Bagi pemerintah provinsi, pariwisata tidak lagi dilihat sebagai kegiatan musiman, tetapi sebagai industri jangka panjang yang mampu membuka peluang investasi, menciptakan lapangan kerja, serta menggerakkan sektor UMKM.
• Investasi pada Sumber Daya Manusia
Kesadaran bahwa pembangunan tidak bisa hanya bertumpu pada sumber daya alam mendorong pemerintah daerah memberi perhatian serius pada pembangunan sumber daya manusia (SDM).
Salah satu kebijakan strategis adalah pembangunan SMA Taruna di Langowan, yang diharapkan menjadi pusat pembinaan generasi muda berkarakter.
Selain itu, sekitar 50 sekolah direvitalisasi, sementara ribuan beasiswa disalurkan kepada pelajar dan mahasiswa.
Program magang ke Jepang bagi alumni SMK juga menjadi langkah konkret dalam memperluas kompetensi tenaga kerja muda Sulawesi Utara di pasar global.
Di sektor pendidikan tinggi, Universitas Negeri Manado mendapatkan persetujuan untuk membuka Fakultas Kedokteran, menyusul rencana pembukaan fakultas pertambangan.
Kebijakan ini memperlihatkan upaya pemerintah daerah memperkuat ekosistem pendidikan yang relevan dengan kebutuhan pembangunan daerah.
• Ketahanan Pangan dan Pemerataan Pembangunan
Ketahanan pangan menjadi prioritas penting dalam agenda pembangunan daerah.
Program Gerakan Pangan Murah digelar di berbagai titik strategis untuk menjaga stabilitas harga dan memastikan akses pangan bagi masyarakat.
Pemerintah provinsi juga menargetkan pengembangan 2.000 hektare lahan padi melalui program pertanian yang mengusung prinsip sederhana namun strategis. “Tanam apa yang dimakan, makan apa yang ditanam.”
Di sisi lain, pemerataan pembangunan terus didorong, terutama bagi wilayah kepulauan.
Listrik 24 jam kini telah hadir di sejumlah pulau seperti Pulau Gangga, Pulau Talise, Pulau Buhias, Pulau Mantehage, dan Pulau Nain.
Langkah ini menegaskan komitmen pemerintah provinsi bahwa tidak boleh ada wilayah yang tertinggal dalam proses pembangunan.
• Kesehatan, Olahraga, dan Respons Bencana
Di sektor kesehatan, layanan ambulans diperluas hingga pelosok daerah, sementara kapal klinik dioperasikan untuk menjangkau wilayah kepulauan seperti Kepulauan Sangihe dan Kepulauan Talaud.
Sulawesi Utara juga menerima penghargaan UHC Award 2026 atas pencapaian cakupan layanan kesehatan universal.
Pemerintah provinsi turut memperkuat fasilitas kesehatan rujukan, termasuk pembangunan gedung pelayanan kanker terpadu di RSUP Prof. R. D. Kandou serta revitalisasi RSUD di Bolsel.
Di bidang olahraga, sejumlah fasilitas direhabilitasi, termasuk Kolam Renang Ranowangko dan arena Pacuan Kuda Minahasa, sementara berbagai kejuaraan olahraga digelar sebagai upaya membangun karakter generasi muda.
Ketika bencana banjir melanda Kota Manado, Gubernur Yulius Selvanus bahkan turun langsung membantu masyarakat hingga larut malam.
Dalam berbagai situasi darurat, kepemimpinan ditunjukkan tidak hanya melalui kebijakan administratif, tetapi melalui kehadiran langsung di tengah masyarakat.
• Menjaga Harmoni Sosial dan Budaya
Sulawesi Utara dikenal sebagai salah satu daerah dengan tingkat toleransi tinggi di Indonesia.
Pemerintah provinsi berupaya menjaga tradisi ini melalui kehadiran dalam berbagai kegiatan lintas agama dan budaya.
Mulai dari open house Idul Fitri, perayaan Imlek, hingga kegiatan keagamaan lintas komunitas, pemerintah daerah berupaya memastikan bahwa pembangunan berjalan seiring dengan harmoni sosial.
Bagi kepemimpinan Yulius Selvanus, pembangunan tidak akan memiliki makna tanpa persatuan dan kedamaian masyarakat.
• Menuju Gerbang Pasifik
Dengan berbagai langkah yang telah dimulai dalam tahun pertama, arah pembangunan Sulawesi Utara mulai terlihat lebih jelas.
Pemerintah provinsi menargetkan daerah ini menjadi pusat pertumbuhan ekonomi kawasan timur Indonesia sekaligus gerbang Pasifik yang kuat dalam perdagangan dan pariwisata.
Persetujuan substansi Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) yang diperjuangkan selama tujuh tahun akhirnya diperoleh, memberikan kepastian hukum bagi investasi dan pembangunan jangka panjang.
Satu tahun pertama memang belum menyelesaikan seluruh persoalan.
Namun dalam perspektif pembangunan, tahun pertama adalah fase penting untuk memastikan bahwa arah kebijakan sudah berada pada jalur yang benar.
Perjalanan masih panjang, tetapi fondasi telah diletakkan.
Sulawesi Utara kini melangkah dengan satu ritme, satu komando, dan satu harapan, membangun provinsi yang maju, sejahtera, dan berkelanjutan bagi seluruh rakyatnya. IOP












