Sulut, PELOPORBERITA.ID — Pemilihan Ketua DPD I Partai Golkar Sulawesi Utara (Sulut) kian mengerucut.
Sinyal kuat yang berembus dari internal partai menyebutkan adanya restu politik dari Christiany Eugenia Paruntu (CEP) kepada sang adik, Michaela Elsiana Paruntu (MEP).
Isu ini bukan sekedar dinamika internal, melainkan telah berkembang menjadi diskursus publik tentang arah dan wajah baru Golkar di Tanah Nyiur Melambai.
Di tengah konfigurasi politik lokal yang semakin kompetitif, langkah MEP dipandang sebagian kalangan sebagai fase penting regenerasi kepemimpinan.
Namun, bagi pengamat politik Sulut, fenomena ini lebih kompleks dari sekedar suksesi berbasis kekerabatan.
Pengamat politik Jeffrey Sorongan, menilai bahwa momentum MEP saat ini bertumpu pada kombinasi antara modal sosial, pengalaman politik, dan penerimaan akar rumput yang relatif solid.
“Jika kita membedah perjalanan politik MEP, kita tidak hanya melihat sosok yang lahir dari keluarga politisi besar, tetapi figur yang aktif membangun relasi sosial dan konsolidasi di lapangan,” ujar Sorongan.
Menurutnya, dalam konteks politik Sulut yang cair dan dinamis, faktor kedekatan emosional dengan masyarakat menjadi variabel penting.
Ia menilai dukungan terhadap MEP tidak semata-mata bersifat elitis atau struktural, tetapi juga berbasis simpati publik yang terbangun melalui aktivitas sosial dan konsistensi kehadiran di tengah masyarakat.
Sorongan bahkan menyebut adanya “lumbung suara” yang militan, terutama di basis-basis tradisional Golkar.
Dalam kalkulasinya, dukungan tersebut menjadi modal elektoral yang signifikan, terlebih menjelang siklus politik berikutnya.
Lebih jauh, Sorongan menggarisbawahi pola menarik dalam perjalanan politik MEP.
Dalam beberapa momentum, MEP disebut kerap menghadapi tekanan politik dan kritik terbuka.
Namun alih-alih meredup, eksistensinya justru dinilai semakin menguat.
“Dalam politik, tekanan bisa menjadi titik balik. Pada kasus MEP, respons yang tenang dan tidak reaktif justru memperluas simpati publik,” kata Jeffrey.
Fenomena ini oleh sebagian analis disebut sebagai efek resilien, ketika figur politik mampu mengubah tekanan menjadi legitimasi moral.
Dalam perspektif komunikasi politik, sikap elegan dan tidak konfrontatif sering kali memperkuat persepsi kedewasaan kepemimpinan.
Restu CEP terhadap MEP tentu bukan tanpa makna.
Sebagai figur senior Golkar Sulut dengan pengalaman panjang dalam kontestasi politik, posisi CEP memiliki bobot simbolik dan strategis.
Namun, Sorongan menegaskan bahwa restu semata tidak cukup.
“Restu adalah validasi politik, tetapi kepemimpinan tetap ditentukan oleh kapasitas personal dan daya tarik elektoral,” ujarnya.
Dalam konteks organisasi partai, Golkar Sulut dinilai membutuhkan figur yang mampu menjembatani kepentingan internal sekaligus memperluas basis eksternal.
Tantangannya bukan hanya menjaga soliditas kader, tetapi juga memastikan partai tetap relevan di tengah pergeseran preferensi pemilih, khususnya generasi muda.
Antara Regenerasi dan Dinamika Dinasti
Tak dapat dimungkiri, kedekatan kekerabatan antara CEP dan MEP memunculkan perdebatan tentang politik dinasti.
Namun dalam tradisi partai modern, regenerasi berbasis keluarga tidak selalu identik dengan kemunduran demokrasi internal, selama prosesnya tetap melalui mekanisme organisasi yang sah dan kompetitif.
Bagi Golkar Sulut, momentum ini akan menjadi ujian, apakah suksesi kepemimpinan mampu memperkuat institusionalisasi partai, atau justru memunculkan resistensi baru di internal.
Yang jelas, bursa Ketua DPD I Golkar Sulut tidak lagi sekedar kontestasi jabatan struktural.
Ia telah menjadi arena pembacaan arah politik Sulawesi Utara ke depan, antara kesinambungan, konsolidasi kekuatan, dan tuntutan pembaruan.
Jika MEP benar-benar melenggang menuju kursi nomor satu Beringin Sulut, maka tantangan sesungguhnya baru akan dimulai.
Menjaga kepercayaan publik, merawat soliditas kader, dan membuktikan bahwa legitimasi politik bukan hanya diwarisi, tetapi dibangun dan dipertahankan melalui kerja nyata. IOP












