SULUT, PELOPORBERITA — Angka inflasi Sulawesi Utara menembus 3,99 persen secara tahunan (year-on-year) berdasarkan rilis terbaru BPS Sulut per 1 September 2026.
Kondisi ini menjadi tantangan bagi Pemerintah Provinsi Sulut di bawah kepemimpinan Gubernur Yulius Selvanus, terutama dalam menjaga daya beli masyarakat.
Tekanan paling terasa pada komoditas hortikultura. Harga cabai rawit (rica) melonjak hingga sekitar Rp150.000 per kilogram akibat menipisnya pasokan petani di tengah kemarau panjang dan cuaca panas ekstrem.
Meski demikian, sejumlah komoditas menjadi penahan inflasi.
Tomat memberikan andil deflasi terbesar sekitar minus 0,48 persen, disusul beras minus 0,22 persen, sementara bawang merah, bawang putih dan ikan segar juga mengalami penurunan atau stabilnya harga karena pasokan relatif aman.
Tekanan inflasi turut datang dari kenaikan tarif angkutan udara setelah berakhirnya promo libur sekolah serta penyesuaian biaya pendidikan.
Kondisi ini menjadi batu ujian Pemprov Sulut agar pengendalian inflasi tidak hanya dilakukan ketika harga sudah melonjak.
Penguatan produksi hortikultura, ketersediaan air, distribusi pangan, serta perlindungan petani perlu menjadi strategi utama menghadapi cuaca ekstrem.
Inflasi bukan sekedar angka statistik. Ketika harga pangan melonjak, daya beli rakyat menjadi taruhan. Red






