Desa Pisa Anak Kandung Mitra Yang Terlupakan

Blog497 Dilihat

TOMBATU,_ 29 Mei 2026. Longsor yang terjadi baru baru ini menyisakan cerita sedih masyarakat Desa Pisa Kecamatan Tombatu Kabupaten Minahasa Tenggara.

Longsor yang menutupi ruas jalan menuju desa Pisa dengan jumlah material tanah yang ber ton ton kubik itu akhirnya menggugah hati Pemerintah Kabupaten Minahasa Tenggara untuk turun tangan secara langsung.

Informasi dari beberapa Tokoh masyarakat mengatakan bahwa kejadian longsor itu menutupi akses menuju desa terpencil (Pisa) sehingga akses menuju desa tersebut lumpuh total. Padahal itu jalan satu satunya menuju desa tersebut.

BPBD Minahasa Tenggara respon cepat dengan memberikan bantuan alat berat sehingga masyarakat secara gotong royong berusaha membuka akses tersebut.

“Untungnya ada alat berat milik Pemkab Mitra yang membantu menguraikan longsoran tersebut sehingga akses ke Desa Pisa bisa di buka kembali”. Ujar salah satu Tokoh masyarakat.

Menanggapi kejadian tersebut, Wakil Ketua Bidang Hukum DPP LSM “Permesta Satu Visi”. Jefry Lensang. SH, kepada awak media mengatakan bahwa dirinya mengapresiasi kerja cepat Pemkab Mitra dalam menanggapi kejadian tersebut sehingga akses yang tertutup segera bisa di buka kembali.

Namun dirinya juga menyayangkan karena jalan tersebut sepertinya kurang perhatian dari Pemkab Mitra. Alasannya adalah sudah ber tahun tahun jalan tersebut rusak parah tapi tidak pernah di perhatikan atau di perbaiki. Padahal Desa Pisa dan masyarakatnya adalah wilayah Mitra, sehingga Pemkab Mitra berkewajiban memperhatikan masyarakatnya.

“Kasihan masyarakat di desa tersebut . Kan di desa itu selain ada kegiatan masyarakat yang melewati akses tersebut ada juga anak sekolah yang melewati jalan tersebut untuk kegiatan belajar”. Tambahnya.

Melihat kondisi jalan yang menuju ke Desa Pisa ini, sepertinya sudah lama tidak di perbaiki.

“Selain sempit, jalannya sudah rusak dan perlu di perbaiki agar sila ke Lima Pancasila benar benar di implementasikan secara benar oleh Pemerintah Kabupaten Minahasa Tenggara”. Tutup Jefry Lensang. SH.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *