Analisis Akademisi UNSRAT: Pertarungan Kursi Golkar Sulut Tak Lagi Sekedar Soal Struktur, Tapi Relevansi Digital

Blog23 Dilihat

Sulut, PELOPORBERITA.ID — Menjelang pelaksanaan Musyawarah Daerah (Musda) Partai Golkar Sulawesi Utara, pengamat politik Fakultas Ilmu Sosial dan Politik Universitas Sam Ratulangi, Dr. Donald Monintja, S.sos., M.Si., menilai pola kepemimpinan internal partai berlambang beringin tersebut masih menunjukkan karakter struktural yang kuat, sekaligus mulai beradaptasi dengan tuntutan politik generasi baru. 

Menurut Monintja, secara historis dan organisatoris, Golkar cenderung menempatkan figur pimpinan puncak dari kader yang telah memiliki posisi strategis di setiap tingkatan struktur partai. 

Tradisi ini, katanya, menjadi ciri khas konsolidasi internal Golkar yang menekankan jenjang kaderisasi formal.

“Secara dominan, Golkar tetap menempatkan top leadernya dari kader yang memang sudah berada dalam posisi struktural di masing-masing level. 

Sangat jarang kader dari tingkat kabupaten/kota langsung meloncat menjadi pemimpin puncak di tingkat provinsi tanpa melalui tahapan struktur,” ujarnya.

Ia menjelaskan, pola tersebut mencerminkan model organisasi partai mapan yang menitikberatkan legitimasi internal, pengalaman organisasi, serta rekam jejak politik sebagai faktor utama dalam menentukan kepemimpinan.

Namun demikian, Monintja menilai bahwa partai-partai besar nasional, termasuk Golkar, telah mengalami transformasi signifikan dalam menghadapi perubahan lanskap politik kontemporer. 

Transformasi itu terutama dipicu oleh dominasi pemilih muda dari kalangan Generasi Z dan milenial yang kini menjadi kekuatan elektoral baru. 

Menurutnya, kelompok pemilih ini memiliki karakteristik berbeda dibanding generasi sebelumnya, terutama dalam hal pola konsumsi informasi politik yang sangat dipengaruhi media sosial dan ruang digital. 

“Partai-partai elite top lima besar sudah bertransformasi mengikuti perkembangan zaman. 

Pemilih Gen Z dan milenial menguasai ruang digital, sehingga gaya kepemimpinan dan strategi komunikasi politik juga harus menyesuaikan realitas tersebut,” jelasnya. 

Ia menambahkan bahwa adaptasi terhadap ekosistem digital tidak hanya menyangkut strategi kampanye, tetapi juga menyentuh gaya kepemimpinan internal partai, termasuk keterbukaan komunikasi, respons cepat terhadap isu publik, serta kemampuan membangun citra politik yang relevan dengan generasi muda. 

Dalam konteks Musda Golkar Sulawesi Utara, pandangan Monintja mengisyaratkan bahwa pertarungan kepemimpinan tidak semata ditentukan oleh kekuatan jaringan struktural, melainkan juga oleh kapasitas kandidat dalam menjawab tantangan politik era digital. 

Figur yang mampu menggabungkan legitimasi organisasi dengan daya tarik elektoral generasi muda dinilai memiliki peluang lebih besar untuk memimpin beringin Sulut kedepan.

Analisis tersebut menunjukkan bahwa Musda bukan sekedar agenda rutin organisasi, melainkan momentum strategis yang akan menentukan arah konsolidasi, regenerasi kepemimpinan, serta positioning politik Golkar di tingkat daerah dalam menghadapi kontestasi politik mendatang. IOP

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *