Menjauhkan Kader Strategis, PDIP Sulut di Persimpangan Jalan Politik 2029

Blog166 Dilihat

Sulut, PELOPORBERITA.ID — Dinamika politik internal Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) Sulawesi Utara kembali menjadi sorotan.

Salah satu kader andalan yang selama satu dekade terakhir turut menguatkan dominasi politik PDIP di Bumi Nyiur Melambai, kini tidak lagi tercatat sebagai pengurus partai berlambang moncong putih tersebut.

Sosok yang dimaksud adalah James Sumendap, S.H., M.H., mantan Bupati Minahasa Tenggara dua periode.

James Sumendap bukan figur biasa dalam peta politik Sulawesi Utara.

Ia adalah produk kaderisasi ideologis yang matang, tumbuh dari rahim Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) dan saat ini menjabat sebagai Ketua PA GMNI, sebuah posisi strategis yang menandai kedalaman pemikiran, jaringan, dan konsistensi ideologinya.

Dalam konteks PDIP, James Sumendap adalah representasi kader organik, bukan instan, bukan karbitan.

Rekam jejak politiknya pun tak terbantahkan. Dua periode memimpin Kabupaten Minahasa Tenggara dengan kemenangan telak, bahkan pada periode kedua berhadapan dengan kotak kosong, sebuah fenomena politik langka yang belum pernah terjadi dalam sejarah Pilkada di Sulawesi Utara.

Fakta ini menunjukkan kuatnya basis massa, legitimasi publik, serta kemampuan konsolidasi politik yang solid.

Namun, absennya James Sumendap dari struktur PDIP Sulut hari ini memunculkan pertanyaan besar, apakah PDIP Sulut sedang mengalami krisis regenerasi kepemimpinan atau justru gagal membaca nilai strategis kadernya sendiri?

Dalam politik elektoral, partai bukan hanya mesin administratif, melainkan rumah besar yang seharusnya merawat aset politiknya.

Mengabaikan figur dengan pengalaman, jaringan akar rumput, dan rekam jejak elektoral yang terbukti, berpotensi menjadi blunder strategis, terlebih dalam menghadapi kontestasi politik jangka menengah menuju Pemilu 2029.

Situasi ini membuka ruang spekulasi politik yang rasional.

Tidak menutup kemungkinan James Sumendap akan dilirik, bahkan direkrut, oleh partai-partai besar lain di Sulawesi Utara.

Salah satu yang paling relevan secara ideologis dan karakter adalah Partai Gerakan Indonesia Raya (Gerindra) partai berlambang burung Garuda yang dikenal sebagai parpol petarung, ketegasan kepemimpinan, dan nasionalisme yang kuat.

Secara visi dan karakter, James Sumendap memiliki irisan yang signifikan dengan Gerindra.

Keteguhan sikap, pengalaman eksekutif, serta keberanian mengambil keputusan besar adalah modal politik yang sejalan dengan DNA partai tersebut.

Jika skenario ini terjadi, maka PDIP Sulut bukan hanya kehilangan seorang kader, tetapi berpotensi menguatkan kompetitor politiknya sendiri.

Politik sejatinya bukan sekedar soal loyalitas struktural, melainkan tentang pengelolaan talenta, penghargaan atas prestasi, dan keberanian membaca arah zaman.

Mengabaikan kader sekelas James Sumendap bukan hanya persoalan personal atau internal partai, tetapi bisa berdampak sistemik terhadap daya saing PDIP di Sulawesi Utara ke depan.

Sejarah politik menunjukkan, partai yang besar bukanlah partai yang paling keras mempertahankan kekuasaan internalnya, melainkan partai yang mampu merawat kader, membuka ruang dialog, dan menghargai kontribusi nyata.

Jika tidak, maka jarak antara elite partai dan realitas basis massa akan semakin melebar.

Menuju 2029, publik Sulawesi Utara akan menilai bukan hanya siapa yang paling kuat secara struktur, tetapi siapa yang paling cerdas membaca potensi dan berani melakukan koreksi.

Dan dalam konteks ini, keputusan PDIP Sulut terhadap James Sumendap patut dicatat sebagai refleksi penting, apakah sebagai strategi matang, atau justru sebagai kesalahan politik yang mahal. Red

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *