Menteri Nusron Perintahkan Pemasangan Patok Massal: “Jangan Biarkan Tanahmu Dicaplok”

Minahasa Selatan372 Dilihat

Purworejo | Peloporberita.id – Suara tegas Menteri Agraria dan Tata Ruang/Kepala Badan Pertanahan Nasional (ATR/BPN), Nusron Wahid, bergema di Lapangan Bola Desa Candingasinan, Purworejo, Kamis (7/8). Dengan nada penuh penekanan, ia mengingatkan seluruh pemilik tanah di Indonesia: batas lahan harus dipatok, dan itu bukan sekadar imbauan, melainkan kewajiban.

“Semua yang punya sertipikat, wajib pasang patok. Jangan sampai tanah kita diambil orang lain hanya karena batasnya tidak jelas,” ujarnya, membuka pencanangan Gerakan Masyarakat Pemasangan Tanda Batas (GEMAPATAS) 2025.

GEMAPATAS kali ini digelar serentak di 23 kabupaten/kota di delapan provinsi, dari Jawa hingga Kalimantan. Tujuannya sederhana tapi krusial: mencegah konflik pertanahan yang selama ini kerap pecah akibat batas lahan yang kabur. Patok bisa dibuat dari beton, kayu, atau besi—yang penting kokoh, jelas, dan disepakati bersama dengan tetangga lahan.

Menteri Nusron membeberkan fakta di lapangan: ada dua jenis sengketa tanah yang paling sering mencuat, konflik yuridis dan konflik fisik. Konflik yuridis biasanya dipicu tumpang tindih dokumen atau letter C ganda. Konflik fisik muncul ketika batas tanah hanya mengandalkan tanda alam seperti pohon atau gundukan tanah—yang suatu saat bisa hilang atau dipindahkan. “Patok ini penegas kepemilikan. Tidak ada lagi alasan kabur soal batas,” tegasnya.

Gubernur Jawa Tengah, Ahmad Luthfi, yang hadir mendampingi, langsung memerintahkan semua kepala daerah di provinsinya untuk menggerakkan desa-desa. “Bupati harus memerintahkan kepala desa agar pemasangan patok dilakukan maksimal. Kita kejar target, jangan sampai berlarut,” katanya.

Di Jawa Tengah, GEMAPATAS berlangsung di Purworejo, Banjarnegara, Kebumen, dan Wonosobo. Jawa Timur meliputi Blitar, Jombang, Lumajang, Malang, dan Pamekasan. Di Jawa Barat, mencakup Bogor I, Bogor II, Cianjur, Cirebon, Pangandaran, Sukabumi, dan Tasikmalaya. Di luar Jawa, kegiatan serupa menyentuh Riau, Sumatra Selatan, Kalimantan Barat, Kalimantan Selatan, hingga Kalimantan Timur.

Pagi itu, di bawah terik matahari Purworejo, patok-patok mulai berdiri. Sebuah simbol sederhana, namun menjadi benteng awal dari sengketa berkepanjangan. Seperti pesan Menteri Nusron: “Patok hari ini, aman tanahmu selamanya.”

***

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *