Hanya NasDem Kirim Karangan Bunga, Soliditas Koalisi Gerindra Sulut Dipertanyakan

Blog59 Dilihat

Sulut, PELOPORBERITA .ID — Peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) Partai Gerindra di Kantor DPD Gerindra Sulawesi Utara (Sulut) menyisakan pemandangan yang memantik tafsir politik. 

Dari pantauan di lokasi, hanya satu partai politik yang terlihat mengirimkan karangan bunga ucapan selamat, yakni Partai NasDem. 

Minimnya simbol ucapan dari partai-partai koalisi lainnya menimbulkan tanda tanya terkait dinamika relasi politik di internal koalisi pemerintahan daerah.

Aktivis, Deddy Loing, menilai fenomena ini tidak bisa dibaca sekedar sebagai persoalan seremonial. 

Menurutnya, simbol-simbol politik seperti karangan bunga memiliki makna komunikasi yang penting dalam kultur politik Indonesia, terutama dalam konteks relasi antarpartai.

“Dalam tradisi politik kita, karangan bunga bukan hanya formalitas, tetapi bentuk pengakuan, penghormatan, dan sinyal relasi politik. 

Ketika hanya satu partai yang hadir secara simbolik, wajar jika publik mempertanyakan, ke mana partai koalisi lainnya?” ujar Loing.

Ia menambahkan, absennya ucapan dari partai-partai koalisi lain patut dicermati, mengingat Gerindra saat ini berada pada posisi sentral dalam konstelasi politik Sulawesi Utara, baik sebagai partai pemenang maupun sebagai poros kekuasaan daerah. 

Situasi ini, menurutnya, bisa dibaca sebagai indikasi adanya jarak komunikasi politik atau setidaknya ketidakpekaan simbolik antar-elite partai.

“Pertanyaannya bukan sekedar soal karangan bunga, tetapi apakah ini mencerminkan melemahnya kohesi koalisi atau hanya kelalaian teknis. 

Namun dalam politik, simbol tidak pernah benar-benar netral,” kata Loing.

Di sisi lain, kehadiran Partai NasDem sebagai satu-satunya partai yang mengirimkan karangan bunga justru menonjol dan dapat dimaknai sebagai upaya menjaga etika politik serta relasi strategis dengan Gerindra. 

Hal ini sekaligus memperlihatkan bagaimana komunikasi simbolik tetap menjadi instrumen penting dalam membangun persepsi publik.

Fenomena ini menjadi pengingat bahwa stabilitas koalisi tidak hanya diuji melalui kebijakan dan distribusi kekuasaan, tetapi juga melalui gestur-gestur politik yang sederhana namun bermakna. 

Dalam iklim politik yang kian kompetitif, konsistensi simbolik menjadi bagian dari narasi kekuasaan yang tidak bisa diabaikan.

Apakah absennya ucapan tersebut murni soal teknis, atau justru mencerminkan dinamika politik yang lebih dalam di balik panggung kekuasaan Sulawesi Utara? Red

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *