Di Balik Pintu Panti, Awal Tahun yang Dihangatkan oleh Kepedulian

Blog72 Dilihat

BITUNG, PELOPORBERITA.ID — Pagi itu, suasana di Kelurahan Karondoran terasa berbeda. 

Bukan karena hiruk-pikuk seremonial, melainkan oleh kehadiran sekelompok orang yang datang membawa sesuatu yang lebih bermakna dari sekedar bantuan, perhatian dan kepedulian.

Organisasi Paesa’an Ne Tua Tua Minaesa (PNTTM) melangkah masuk ke Panti Jompo Hana dan Panti Asuhan Anak Kasih, Sabtu (7/2/26), dalam sebuah anjangsana sederhana namun sarat makna. 

Di barisan terdepan, Tonaas Wangko PNTTM Isak Tambani, didampingi sang istri Jeddy Mokolomban, bersama keluarga besar Tambani–Mokolomban, menyapa para lansia dan anak-anak dengan senyum yang tulus.

Tak ada jarak. Tak ada formalitas berlebihan. Hanya percakapan pelan, jabat tangan hangat, dan tatapan mata yang saling menguatkan.

Ketika Bantuan Menjadi Kehadiran

Bantuan yang diserahkan, paket sembako, perlengkapan harian, serta satu unit mesin cuci datang sebagai jawaban atas kebutuhan yang kerap luput dari perhatian. 

Namun lebih dari itu, kehadiran PNTTM menjadi pengingat bahwa mereka yang tinggal di balik dinding panti tidak pernah benar-benar sendiri.

“Semoga apa yang kami bawa hari ini bisa sedikit meringankan beban dan membantu aktivitas sehari-hari,” ucap Isak Tambani lirih, di sela perbincangan dengan para penghuni panti.

Mesin cuci yang diserahkan mungkin tampak sederhana, tetapi bagi pengelola panti, itu berarti waktu dan tenaga yang bisa dihemat dan bagi para lansia serta anak-anak, itu berarti kenyamanan hidup yang lebih layak.

Bagi Isak Tambani dan keluarga besar PNTTM, anjangsana ini bukan sekedar agenda sosial. 

Ia adalah cara memaknai rasa syukur di awal tahun, sekaligus refleksi atas peringatan Hari Ulang Tahun ke-18 Partai Gerindra.

“Kami percaya, syukur yang sejati adalah yang dibagikan. 

Kami ingin kebahagiaan memasuki tahun baru dan momentum HUT Gerindra ini juga dirasakan oleh saudara-saudara kita di sini,” tuturnya.

Di sudut ruangan, beberapa lansia tampak menahan haru. 

Anak-anak panti menyambut dengan senyum malu-malu. 

Pengelola panti, Ibu Ros Kantohe dan Bapak Lespi Kahiki, tak menyembunyikan rasa terima kasih mereka.

“Bantuan ini sangat berarti bagi kami,” ujar Ros Kantohe. 

“Bukan hanya karena nilainya, tetapi karena kami merasa diperhatikan.”

Di akhir kunjungan, tak ada janji besar yang diucapkan. 

Hanya doa-doa yang mungkin tak terdengar, namun tinggal lama di hati. 

Di Karondoran pagi itu, awal tahun tak dirayakan dengan kemewahan melainkan dengan kepedulian yang tulus, sunyi, dan penuh makna. Red

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *