Isu Penolakan Dipelintir! Ronald Ungkap Fakta Pemotongan Kapal Karya Mekar 2

Blog66 Dilihat

MINAHASA, PELOPORBERITA.ID — Isu liar soal dugaan penolakan warga terkait aktivitas pemotongan kapal Karya Mekar 2 di Desa Tateli Weru terjawab.

Ronald Sumual, SH., ST., M.Si, pihak yang memegang pekerjaan pemotongan kapal tersebut, angkat bicara dan membantah tegas seluruh tudingan yang beredar.

Menurut Ronald, pemberitaan sebelumnya tidak mencerminkan kondisi lapangan.

Ia menegaskan bahwa seluruh proses perizinan, kesepakatan dengan masyarakat, hingga administrasi resmi telah ditempuh secara transparan dan sah.

“Semua perizinan ditandatangani langsung oleh pemerintah desa dan disetujui warga.

Tidak ada penolakan seperti yang diberitakan.

Justru masyarakat mendukung karena proses ini dilakukan dengan benar,” tegas Ronald, yang juga Ketua Permesta Corruption Watch (PCW) Sulut.

Ronald mengungkapkan, kapal Karya Mekar 2 awalnya adalah milik seorang bernama Ko Senga.

Ia menjalin kesepakatan jual beli dengan Ko Achun berdasarkan uang panjar dan batas waktu pelunasan.

Namun, hingga waktu habis, Ko Achun tidak juga menyelesaikan pembayaran.

Lebih jauh, Ko Achun bahkan diduga mengambil barang-barang di dalam kapal tanpa izin pemilik.

Tindakan itu dilaporkan Ko Senga ke pihak berwajib sebagai dugaan pencurian.

Ko Achun juga disebut mempekerjakan beberapa warga sekitar tanpa membayar upah serta mengobral janji bantuan kepada masyarakat dan gereja yang hingga kini tak pernah terealisasi.

Melihat kekacauan transaksi tersebut, Ko Senga akhirnya menjual kapal itu kepada Ronald.

Setelah resmi membeli, Ronald segera melengkapi seluruh administrasi dan perizinan, termasuk surat izin yang ditandatangani pemerintah desa dan disaksikan Bhabinkamtibmas.

Tak hanya itu, sebagai bentuk tanggung jawab sosial, dan untuk menutup janji yang sebelumnya dibiarkan mangkrak oleh Ko Achun, Ronald menyalurkan bantuan sembako kepada warga.

Ia juga menunjukkan bukti berupa dokumen, foto, dan video penandatanganan izin bersama pemerintah desa serta perwakilan warga.

“Semuanya saya lakukan secara resmi, terbuka, dan terukur. Tidak ada yang ditutup-tutupi,” ujar Ronald.

Ronald menilai narasi penolakan warga yang sempat viral hanyalah upaya manipulatif pihak tertentu untuk memprovokasi.

“Ini jelas isu yang dipelintir. Lapangan tidak seperti itu. Warga tahu prosesnya dan mereka mendukung.

Jangan ada lagi yang coba-coba memprovokasi masyarakat,” tegasnya.

Di akhir pernyataannya, Ronald meminta media tetap berpegang pada prinsip jurnalistik yang berimbang, faktual, dan tidak mendistorsi informasi.

“Saya berharap pemberitaan ke depan mengedepankan cek fakta.

Jangan sampai masyarakat resah hanya karena isu yang tidak berdasar,” pungkasnya. Red

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *